oleh

Polsek Kemayoran Olah TKP Pria Gergaji Leher Sendiri

JAKARTA PUSAT, Pelitajakarta.com – Diduga stres, juru parkir (jukir) menggergaji lehernya sendiri. Usahanya mencoba mengakhiri hidupnya itu gagal setelah dipergoki ibunya sekarat di kamar mandi rumah mereka di Jalan Kemayoran Barat Jakarta Pusat.

Dalam kondisi sekarat, Ded, 35, dilarikan ke RS Hermina, Kemayoran. Hingga Jumat (16/2), jukir di kawasan Kemayoran ini masih dirawat. “Luka di lehernya mendapat 16 jahitan,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Kemayoran AKP Iswantara.

Petugas Polsek Kemayoran yang mengusut peristiwa ini menyita gergaji berlumuran darah dan memintai keterangan sejumlah saksi termasuk Ny. Satinah, 64, ibunda korban.

“Dugaan kuat Dedy nekat melakukan itu lantaran stres masalah ekonomi. Di usianya sudah kepala tiga, dia belum juga berumah tangga karena pekerjaannya sebagai jukir belum mampu menafkahi diri sendiri,” ujar AKP Iswantara.

Ulah Dedy, bermula Kamis (15/2) sore sekitar pukul 16:00, dia dan ibunya ngobrol berdua di ruang tamu. Tak lama kemudian, Dedy pamitan ke ibunya ke kamar mandi, buang air kecil. Namun sekian lama ditunggu, putranya itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Lantaran curiga, Ny. Satinah mengecek ke kamar mandi.

“Innalillahi, anak saya sudah terbujur lemah dengan luka menganga di lehernya,” ucap Ny. Satinah kepada AKP Iswantara.

Spotan ibu rumah tangga panik bukan kepalang. Dia lantas berteriak histeris hingga mengundang tetangganya berhamburan datang ke rumahnya. Mereka kaget melihat kondisi Dedy terbujur lemah dengan berlumuran di kamar mandi. Warga bergegas melarikannya ke rumah sakit.

Kejadian ini dilaporkan ke polisi. Tak lama kemudian sejumlah anggota Polsek Kemayoran berdatangan melakukan olah tempat kejadian. Dari keterangan sejumlah saksi, Dedy juga pernah berniat bunuh diri dua bulan lalu.

“Kala itu, putra keempat dari lima saudara pasangan Nadi, 70, dan Ny. Satinah ini, menggunakan cairan obat nyamuk. Namun, ulahnya itu berhasil diselamatkan warga,” ujar AKP Iswantara.

Selama ini buat membiayai hidupnya Dedy bekerja sebagai jukir, tetapi penghasilan itu tak cukup. Karena itu, dia tidak berani pacaran atau menikah lantaran tak punya penghasilan yang cukup alias kecil.

“Selama ini dia sudah melayangkan surat lamaran kerja ke sejumlah perusahaan, tapi tak pernah mendapatkan pekerjaan dengan bayaran sesuai UMP (Upah Minimum Provinsi),” tegas Kanit Reskrim.(Ivan/Is)

Berita Terkait