oleh

Sejarah Misi Diplomatik Haji Agus Salim dalam Film ‘Moonrise Over Egypt’

JAKARTA, Pelitajakarta.com – Film ‘Moonrise Over Egypt’ yang mengungkap fakta sejarah diplomasi internasional pertama Indonesia di tahun 1947, akan mulai tayang di biosko-bioskop seluruh Indonesia, pada 22 Maret mendatang. Film produksi Tiga Visi Sinema (TVS) ini disutradarai oleh Pandu Adiputra, dan digawangi dua produser Amir Sambodo dan Adie Marzuki.

Amir Sambdo menjelaskan, film ini dibuat dengan mengumpulkan referensi dan masukan dari pihak keluarga sejumlah tokoh nasional yang terlibat dalam proses perjuangan diplomasi Indonesia dan Mesir pada tahun 1947. Mereka antara lain adalah; Agustanzil Syahroeza atau Ibong yang merupakan cucu dari Haji Agus Salim, Jajang C Noer yang tak lain adalah putri dari tokoh diplomat Nazir Datuk Pamuntjak, dan juga Anies Baswedan cucu dari AR Baswedan. Selain itu, pihak produser juga mendapat masukan dari keluarga HM Rasjidi yang merupakan Menteri Agama pertama Republik Indonesia. Referensi lain juga diperoleh dari keluarga tokoh Zain Hasan, yang pada saat kedatangan misi diplomatik pimpinan H. Agus Salim ke Kairo, memberikan kontribusi yang sangat besar.

“Film ini kami buat, yang petama adalah untuk menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia. Selain itu, film ini adalah perjuangan diplomasi internasional pertama. Tanpa perjuangan Haji Agus Salim dan delegasi Indonesia pada tahun 1947 itu, maka Indonesia tidak diakui sebagai negara berdaulat. Ini adalah tonggak sejarah pertama Indonesia diakui dalam pergaulan antar bangsa,” jelas Amir Sambodo di Epicentrum Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Demi menjangkau penonton generasi muda, Amir menambahkan, film Moonrise Over Egypt juga memberikan sentuhan kisah romantisme. “Tapi tetap tidak keluar dari pakem sejarah. Film ini adalah berdasarkan kejadian sebenarnya, tapi kita tampilkan dalam sinematografi yang ada dramatisasinya,” tegas Amir.

Sementara itu, Prof. Dr. Emil Salim, cendekiawan Indonesia yang banyak berkiprah di dunia internasional, mengungkapkan, film Moonrise Over Egypt sangat penting karena mengangkat satu bagian dari sejarah, yang belum banyak dikenal secara luas. “Waktu tahun 1946, kita berada di dalam suatu perjuangan menyusul adanya Perjanjian LinggarJati, dimana oleh Belanda, Republik Indonesia dipecah-pecah ke dalam berbagai negara. Di dalam proses itu berlangsung suatu usaha untuk mengakui Republik Indonesia oleh liga Arab di Mesir. Sehingga liga Arab mengundang Indonesia yang diwakili oleh Haji Agus Salim pada Juli 1947 ke Kairo untuk memperjuangkan pengakuan de jure terhadap Republik Indonesia ini,” terang ahli ekonomi dan lingkungan hidup yang pada era Orde Baru pernah menduduki serangkaian jabatan menteri.

Di saat Belanda masih terus mengusik pengakuan kemerdekaan yang telah diproklamasikan di Tanah Air, di luar negeri pun, upaya Haji Agus Salim bersama tim delegasinya juga terus saja dijegal oleh pihak Belanda. “Dengan keberhasilan perjuangan H Agus Salim yang mendapatkan pengakuan de jure dari Liga Arab Mesir itulah, maka Indonesia selanjutnya bisa berbicara di forum PBB hingga dibentuk Komisi Tiga Negara dibawah pengawasan PBB yang pada gilirannya membuat Belanda tidak bisa lagi berkutik. Dengan demikian pada tahun 1949, Republik Indonesia sudah diakui kedaulatannya oleh seluruh bangsa,” ungkap Emil Salim. “Jadi pengakuan dari negara Mesir itu adalah pintu masuk Indonesia ke dunia internasional.”

Prof Dr Emil Salim berharap, film ini dapat memberi ilham. “Bahwa bangsa ini terdiri dari kualitas-kualitas manusia yang tegar, tegas, kokoh dan patut kita hargai sepanjang jaman,” pungkas keponakan dari pahlawan nasional almarhum Haji Agus Salim ini.

Tokoh Haji Agus Salim dalam film Moonrise Over Egypt diperankan oleh aktor teater asal Yogyakarta, Pritt Timothy. Tokoh AR Baswedan diperankan Vikri Rahmat, karakter Nazir Datuk Pamuntjak diperankan Drh. Ganda. Selain ketiga pemeran itu, ada pula nama yang sudah akrab di telinga, yakni Reza Anugrah, anggota Boyband Smash yang berlakon sebagai Zain Hasan, dan juga aktor gaek Mark Sungkar yang didapuk menjadi Perdana Menteri Mesir El Nourkrashy Pasha. Sebagian proses syuting film ini dilakukan di Mesir, dan melibatkan sejumlah tenaga sineas Mesir.

Berita Terkait