oleh

Kepulauan Selayar akan Menarik 11.000 Wisatawan

JAKARTA, pelitajakarta.com – Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara (Deputi P3N) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti bersama Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) Dr H. Zainuddin meluncurkan Calendar of Events 2018 Kabupaten Kepulauan Selayar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Rabu.

“Peluncuran kalender event pariwisata ini sebagai upaya mempromosikan serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Selayar pada 2018 yang menargetkan lebih dari 11.000 wisatawan,” kata Deputi Esthy Reko Astuti.

Dalam kalender event 2018, Kabupaten Selayar akan menyiapkan sekitar 50 event yang mengandalkan daya tarik berupa budaya (culture), alam (nature), bahari (marine tourism), dan buatan manusia (man-made) dalam gelaran Pesona Takabonerate 2018 sebagai event utama.

Taman Nasional Takabonerate yang ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) itu menjadi ikon untuk wisata bahari kelas dunia dan akan menjadi tempat diselenggarakannya event internasional Sail Indonesia atau Sail Takabonerate 2019.

Deputi P3N Kemenpar Esthy Reko Astuti mengapresiasi peluncuran Calendar of Events 2018 Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai persiapan Kabupaten Selayar dalam menyambut pariwisata 2018 yang menargetkan kedatangan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 270 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) ke Tanah Air.

“Dari sejumlah event yang dipersiapkan dalam Calendar of Events 2018 Kepulauan Selayar diharapkan ada yang terpilih sebagai satu di antara 100 ‘premier event’ internasional Wonderful Indonesia 2018,” ujar Esthy Reko Astuti.

Ia mengatakan, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam Rakornas III Pariwisata 2017 di Jakarta baru-baru ini menegaskan perlu adanya stimulus pada setiap daerah agar menciptakan event berskala internasional masuk dalam Calender of Event (CoE) Wonderful Indonesia 2018.

“CoE Wonderful Indonesia 2018 perlu disusun kemudian dikurasi berdasarkan standar internasional yang berkelanjutan, dikelola profesional, dan terjadwal dengan ketat,” tutur Esthy.

Komentar

Berita Terkait