Beranda Budaya Wayang Dikagumi Dunia, Tapi Terpinggirkan di Negeri Sendiri

Wayang Dikagumi Dunia, Tapi Terpinggirkan di Negeri Sendiri

77
Wayang Dikagumi Dunia, Tapi Terpinggirkan di Negeri Sendiri

PARIS, Pelitajakarta.com –  Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) turut ambil bagian dalam program pertemuan ‘7th General Assembly’ yang berlangsung di Markas UNESCO, Paris, Perancis, pada 6-9 Juni 2018. Perhelatan yang disaksikan ratusan orang dari berbagai Negara ini sekaligus menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia adalah rumah bagi wayang.

“Tentu kita bangga dapat memperlihatkan hal ini kepada masyarakat dari manca Negara,” kata dalang  Gaura Mancacaritadipura  salah satu delegasi yang diutus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), untuk mengikuti acara ini.

Selain mengikuti sidang ‘7th General Assembly’, delegasi Indonesia diberi kesempatan tampil mengisi pertunjukan. Menyuguhkan; performance Wayang Orang dan Wayang Kulit dalam durasi pendek, bertajuk “Kresna Duta”.

“Hal ini boleh dikatakan suatu inovasi, ada dua sisi kelir (layar) dengan dua dalang tampak depan belakang. Kemudian permainan ini dikolaborasikan dengan Wayang Orang. Ini cukup menarik. Saya banyak mendengar beberapa delegasi dari Negara lain, setelah menyaksikan mereka mengacungi jempol,” ujar dalang Warga Negara Indonesia, asal Australia ini.

Target delegasi, menurut Ketua Delegasi Indonesia,  Dra. Eny Sulistyowati S.Pd, MM,  antara lain, memelihara kepercayaan dunia melalui badan dunia UNESCO, bahwa Wayang Indonesia tetap lestari, dijaga, dan dikembangkan.

“SENAWANGI sebagai lembaga yang sudah terakreditasi di UNESCO punya kewajiban untuk mengikuti sidang ini. General Assembly secara khusus dimaksudkan untuk meninjau keadaan kerjasama dengan UNESCO. Jika kita tidak pernah hadir mengikuti sidang, dan tidak pernah memberi laporan, maka akreditasi kita dicabut,” terang Eny Sulistyowati.

Pergelaran Wayang “Kresna Duta” menampilkan dua dalang muda profesional,  Bagus Baghaskoro Wisnu Murti, S.Sn  (Dalang Muda asal Jawa Timur), serta  Muhammad Irawan, SE  (Dalang Muda dari Jakarta). Keduanya mampu mengakselerasikan elemen instrumental (musik), solah (tempo permainan), dan cepengan (memegang/menggerakkan wayang) yang mengesankan.

Daya imajinasi kedua dalang mampu mengeksplorasi lakon yang ditangkap penonton secara multi interpretatif. Keunggulan estetik ini kemudian semakin diperkuat dengan penampilan para aktor dan aktris handal dari dunia Pewayangan Indonesia,  Agus Prasetyo S.Sn  (WO Sriwedari), berperan sebagai Karno,  Matheus Wasi Bantolo, S.Sn., M.Sn (ISI Surakarta) berperan sebagai Kresna, serta  Dra. Eny Sulistyowati S.Pd, MM  (Seniman Tari Jakarta) berperan sebagai Kunti.

“Ini kolaborasi yang solid. Diplomasi Indonesia mempromosikan Wayang secara mandiri. Multi track diplomacy. Tidak dilakukan Negara (Pemerintah), tapi dari para penggiat wayang dari lembaga non-Pemerintah (NGO). Penampilannya bagus. Mengantar kebudayaan Indonesia semakin mendunia,” ujar  Jeff Cottaz , Pengamat Budaya Indonesia, berkebangsaan Perancis.

Wayang ‘Terpinggirkan’ di Negeri Sendiri  

Gaura Mancacaritadipura mengharapkan, Pemerintah Indonesia dapat lebih berperan aktif mengurus wayang. Sejak 7 November 2003, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengakuan ini sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Sebab terbukti wayang berhasil mengangkat citra bangsa, mengangkat nama bangsa, harkat dan martabat bangsa di forum dunia.

“Pemerintah punya tanggung jawab besar terhadap masalah ini. Pemerintah kurang agresif mengurus budaya, terutama wayang. Secara kualitatif maupun kuantitatif Pemerintah kurang serius mengurus wayang. Tentu kita mengharapkan hal itu bisa ditingkatkan,” ujar Gaura, yang mengatakan biaya keberangkatannya dan tim mengikuti sidang ini ditanggung atas swadaya masyarakat Indonesia yang peduli wayang.

Pada sisi lain Jeff Cottaz, menyampaikan tentang pentingnya acara ini. Melalui forum ini setidaknya, wayang dapat dijadikan sebagai media ekspresi yang memperlihatkan karakter sebuah bangsa. Namun pengamat budaya yang pernah tinggal di Indonesia ini sekaligus menyayangkan, wayang justru terlantar dan terpinggirkan di negerinya sendiri.

“Kami di sini, di UNESCO mengenal wayang sebagai budaya dunia. Tapi ingin saya katakan, sebelum mendunia wayang harusnya me-Nusantara. Saya pernah tinggal di Indonesia, banyak sekali daerah yang tidak mengerti sama sekali wayang. Walau SENAWANGI sudah berupaya, tapi masih harus terus ditingkatkan. Upaya mengenalkan wayang harus berkelanjutan terutama pada generasi muda. supaya wayang itu menjadi buah pikiran,” saran Jeff Cottaz.

Ikut serta para penggiat seni dan budaya lainnya, antara lain;  Sumari, S.Sn., (Sekretaris Umum SENAWANGI),  Eddie Karsito,  Wahyu Wulandari, dan  Ina Sofiyanti, tim pendukung event menyeluruh pada sidang-sidang ‘7th General Assembly’ di Paris.

‘General Assembly’ adalah forum NGO – ICH, jaringan yang memiliki platform untuk berkomunikasi, pertukaran dan kerjasama antar organisasi penggiat budaya, yang terakreditasi oleh UNESCO. Sesuai Konvensi UNESCO forum ini secara bersama-sama, menjaga nilai-nilai warisan budaya tak berwujud (Intangible Cultural Heritage). General Assembly’ diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Tidak kurang dari 500 orang delegasi dari 175 Negara bersidang di acara ini.