oleh

Muatan Religius dan Spiritual dalam Film Wage

JAKARTA, Pelitajakarta.com – Memerankan tokoh Wage Supratman yang tidak banyak ditemukan referensinya, merupakan tantangan tersendiri bagi Narendra Bagus Pamungkas atau yang akrab disapa Rendra. Namun seniman teater di Yogyakarta ini digadang-gadang bakal menjadi artis film papan atas, lewat kesuksesannya dalam memerankan tokoh Wage, sebagaimana penilaian sebagian besar penonton yang menyaksikan pemutaran perdana film Wage, di Jakarta baru-baru ini.

Rendra mengaku selama proses memerankan tokoh Wage, dirinya tidak menggunakan rasio, tetapi lebih mengandalkan rasa. Karena menurutnya, akan menjadi sebuah ketidaksopanan jika karakter Wage dibangun dengan cara yang tidak sepantasnya.

“Dan alhamdulillah, qodarulloh, ketika aku memerankan Wage, badanku serasa dituntun dengan sangat baik dan halus sekali. Aku hanya berbekal bismillah, dan memulainya dengan berdoa,” ucap aktor kelahiran Kandangan, Kediri, 21 Maret 1984 ini.

Rendra mengungkapkan, selama beberapa waktu setelah menyelesaikan proses syuting film Wage, ia merasakan kekosongan. “Kosong, karena ada ritme yang tiba-tiba berubah, yang faktor X-nya terlalu banyak,” papar Rendra yang mengaku banyak memperoleh pengalaman spiritual. “Film ini memang bukan film yang bermuatan metafisik, tapi secara personal saya merasa seperti ada kekuatan doa yang begitu besar.”

Rendra menyebut, adegan Sosro Kartono adalah adegan yang paling berat. “Sampai-sampai executive produser film ini, Mas Bechi (M. Subchi Azal Tsani, red), secara khusus mengawal adegan ini dengan begitu intens. Dan adegan ini diambil dari sore, sampai setengah satu dini hari baru selesai,” kenang Rendra tentang proses syuting pada scene Sosro Kartono tersebut. “Saya nggak apa-apa, tapi pemain yang memerankan sosok Sosro Kartono seperti nggak dapat-dapat terus. Dan itu take paling panjang dalam sejarah syuting film ini. Ya, bisa dipercaya bisa enggak, tapi realitasnya memang begitu.”

Sedikit bocoran tentang adegan yang dimaksud Rendra itu berkait dari kegelisahan Wage ketika proses penciptaan lagu Indonesia Raya, dimana setelah melewati waktu demi waktu, namun Wage tak kunjung mampu menyelesaikannya.

Berita Terkait